Minggu, 18 Maret 2012

Kegalauan Angan Akan Pendidikan

Tau kah kalian cara dalam menggapai sebuah angan-angan?
Yang terpikirkan oleh sebagian orang pastilah berdoa dan berusaha sekeras mungkin. Dengan melakukan hal itu maka Anda akan semakin dekat dengan angan-angannya dan memungkinkan untuk menggapainya. Saya (baca: Mimpi) mempunyai seorang teman bernama Angan, dia merupakan orang yang taat beragama dan juga taat akan adat istiadatnya selain itu juga taat akan perintah orang tuanya. Bisa dibilang Angan merupakan anak harapan orang tua serta bangsa ini.

Dahulu kala, Angan yang sudah lulus dari pendidikan Sekolah Dasarnya dibikin bingung karena mendapatkan nilai hasil Ujian Akhir Sekolah yang kurang bagus. Alhasil dia pun bingung untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi. Dia selamat karena bisa memasuki Sekolah Menengah Pertama walaupun sekolah itu merupakan sekolah yang dipandang buruk oleh beberapa masyarakat karena suka tawuran. Ada alasan mengapa Angan yang terbilang seorang anak cerdas dapat masuk ke sekolah seperti itu, karena menurut kabar burung yang tersebar bahwa terdapat seorang anak yang mendapatkan bocoran soal ujian. Oleh karena itu, semua nilai ujian satu sekolah di pangkas. Entah itu benar atau tidak hanya Tuhan yang tahu. Tetepi ada satu bukti yang kuat, ada seorang anak yang terbilang kurang pintar di kelas tetapi dia mendapatkan nilai ujian tertinggi sedangkan anak yang selalu menjadi juara kelas berada dibawahnya. Anak yang mendapatkan nilai ujian tertinggi tersebut adalah merupakan seorang anak guru dari sekolah dasar lainnya.

Setelah selesai perpindahannya dari Sekolah Dasar menuju Sekolah Menengah Pertama, maka dilanjutkan dengan perpindahannya menuju Sekolah Menengah Atas. Saat itu Angan sudah membidik sekolah yang akan dia masuki. Sekolahnya bagus dan setelah di hitung-hitung, Angan percaya dapat masuk sekolah tersebut. Tetapi apa yang terjadi, sekolah tersebut pun lantas menjadi sekolah unggulan di kota dia tinggal. Akhirnya pupus sudah harapan Angan untuk bersekolah di sekolah tersebut karena nilai Ujian Akhir di Sekolah Menegah Pertamanya itu hanyalah seadanya, tidak memenuhi persyaratan yang terlampau tinggi. Angan pun akhirnya bersekolah disebuah sekolah yang sedikit terpencil tetapi cukup bagus dan sedang berkembang. Sekolah itu memang sekolah unggulan tetapi menjadi sekolah percobaan pemerintah pusat. Dapat diartikan sekolahnya itu terbilang sekolah favorit. Saya tahu sewaktu Angan berkata itu hanya untuk menghibur dirinya yang gagal memasuki sekolah idamannya tersebut.

Lalu berlanjut lagi dengan "kenaikan derajat" untuk pendidikan Angan. Angan lulus dan dikenal sebagai seorang anak yang cerdas, baik dan easy going. Langkah awal adalah mendaftar disebuah Sekolah Tinggi akuntansi terkenal di negaranya. Angan yang sewaktu Sekolah Menegah Atas mengalami sebuah ketidakberuntungan, sehingga harus masuk ke IPS (dahulu kala sewaktu SMA terdapat penjurusan yakni IPA, IPS dan IPB -Ilmu Pengetahuan Bahasa ya, bukan nama sebuah Institut Pertanian di Bogor-) padahal dia menginginkan sekali masuk IPA. Alasannya sederhana karena dia tidak menyukai hafalan dan bahasa, sampai pelajaran bahasa Indoensia sendiri saja dia sudah muak. Angan menyukai pelajaran menghitung.

Kemudian sesudah lulus Sekolah Menengah Atas, terjadi gonjang-ganjing dalam diri Angan. Kemana dia akan melanjutkan menuntut ilmu? Jurusan apa yang harus dia pilih?. Pertanyaan mudah dengan jawaban yang sulit untuk Angan waktu itu. Angan pun memutuskan untuk mencoba mendaftar di sebuah Sekolah Tinggi mengenai akuntansi, hal ini karena dia menyukai hitungan. Mengikuti Tes dan akhirnya dia gagal. Tidak mau patah arang dia mencoba mendaftar disebuah Universitas. Mengikuti Tes dan akhirnya dia gagal. Masih bersemangat untuk mencoba, Angan pun mencoba seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Mengikuti Tes dan gagal. Pasrah adalah pikiran pertama yang terdapat pada otak cerdasnya. Sampai akhirnya terdapat sebuah cahaya yang kemungkinan memberi secercah harapan. Dia mendaftar pada sebuah Politeknik di kotanya. Tes dijalani dan akhirnya dia berhasil lolos. Sungguh sebuah pencapaian Angan yang tak terlupakan. Setelah gagal beberapa kali dia berhasil dan bisa dibilang "indah pada waktunya".

Kuliah merupakan tekanan yang berat untuk Angan. Hal ini dikarenakan jurusan yang dipilih oleh Angan mayoritas menggunakan Hafalan. Sungguh bertolak belakang sekali dia, karena Angan yang lebih menyukai hitungan daripada hafalan. Nightmare. Angan dan saya memang mirip karena kami sama-sama menyukai hitungan dari pada hafalan dan kami pun satu kampus. Saya dan Angan bahu-membahu untuk menyelesaikan kuliah kami walaupun suka mendapatkan nilai yang kurang baik.

Kamis, 15 Maret 2012

Khayalan Sesosok Perempuan Lagi

Diakhir masa perkuliahan, saya (baca: khayal) diperlihatkan oleh Tuhan sesosok perempuan. Sosok perempuan yang lucu, mandiri (walaupun nantinya saya tau kalau dia sedikit manja, tapi manjanya itu wajar), hemat, gaul dan banyak hal unik dan menarik dalam dirinya. Dia yang merupakan sosok yang aku nanti selama ini. Selama pencarianku di dunia ini. Mungkin ini memang terdengar berlebihan tapi memang seperti itu adanya. Saya memang beruntung bisa kenal dengan sosok perempuan seperti dia.

Saya sudah lupa bagaimana bisa berkenalan dengannya. Semua berjalan dengan cepat, sehingga saya tersadar kalau sudah berkenalan. Alhamdulillah. Setelah berkenalan, karena ada satu hal saya sering melihat dirinya. Sering melihat tingkah lakunya yang menurut saya mengasyikkan. Dia benar-benar tidak mengenal orang dalam berteman, semua orang dijadikannya teman. Sungguh beruntung saya bertemu sosok perempuan seperti ini.

Lalu hingga di suatu saat saya menyatakan rasa ingin memilikinya. Dan saya terkejut begitu tau jawaban dia yang meng-iya-kan pernyataan saya. Disaat itu saya merasa sangat bahagia sekali, dan saya merasakan bagaimana bumi berputar dengan tenangnya. Tidak seperti yang saya rasakan sebelumnya, bumi berputar dengan rentetan ketidakasikkan yang membuat saya ingin segera melupakan kehidupan ini.

Saya akan ceritakan kurang lebihnya tentang acara peresmian hubungan kami ini. Awalnya saya ingin menyatakan rasa sayang saya kepadanya saat kami melakukan sebuah tugas, tetapi karena saya hanyalah seorang khayal yang pemalu dan tidak percaya diri akhirnya saya urungkan niat saya itu. Lalu kami pun menuju kampus untuk suatu hal dan dilanjutkan ke masjid untuk beribadah shalat maghrib di sebuah masjid dan kendaraan kami pun parkir bersebelahan. Kami pun shalat, dan selesai shalat ketika ingin menyalakan mobil saya melihat sebuah tanggal di MID mobil yang saya gunakan. Saya pun sontak membatin, "bagus juga nih angkanya". Dan saya pun tanpa pikir panjang membuka jendela mobil. Setelah itu saya bingung ingin melakukan apa-apa karena sewaktu saya membuka jendela mobil seperti ada yang menggerakkan otak saya agar menyuruh tangan untuk melakukan hal tersebut. Tidak lama setelah jendela mobil saya terbuka, dia juga membuka jendelanya. Subhanallah, dia terlihat mempesona sekali dimataku ini. Dia pun bertanya,"ada apa?", lalu saya menjawab,"tidak ada apa-apa kok", kemudian dia berkata,"oh gitu, kirain ada apa-apa. Ya sudah kita pulang yuk". Setelah mesin kendaraan kami menyala saya pun berkata,"ada yang mau gue tanya nih", dia pun bertanya,"tanya apa Yal?", saya pun menjawab,"ada sih yang mau ditanya tapi jujur ini susah banget keluarnya, kayak nyangkut gitu", dia pun bertanya kembali,"emang mau ngomong apa sih? ngomong aja, ga apa-apa kok". Saya pun yang awalnya ingin menyatakan rasa sayang saya kepada dirinya tetapi malah tidak bisa mengatakannya, ibaratnya sebuah kata itu diolah oleh pita suara yang diproses di tenggorokan lalu disalurkan ke lidah dan akhirnya menyangkut di ujung lidah sehingga tidak menghasilkan sebuah perkataan. Saya seperti seorang yang tidak memiliki lidah karena sulitnya untuk mengeluarkan kata-kata yang menyangkut pada ujung lidah saya itu. Hingga akhirnya mukjizat pun terjadi, Tuhan sangat baik kepada saya dan saya bisa mengutarakannya. Saya pun bertanya," mau ga lo jadi pacar gue?", tetapi saya sedikit terlambat karena dia seperti terlihat kesal karena saya selalu berkata bahwa saya ingin bertanya tetepi pertanyaan itu tidak kunjung dapat saya utarakan. Dia membalas bertanya,"apa?" (dengan nada bertanya seperti tidak mendengar perkataan saya tadi), saya pun mengulangi bertanya,"iya, mau ga lo jadi pacar gue?". Dia pun belum menjawab tetapi malah bertanya kembali,"ini serius ga sih? nanti main-main lagi, kan lo sukanya bercanda", saya pun menjawab,"serius lah,mau ga lo jadi pacar gue". Dia pun berkata,"sebentar ya", dan setelah itu dia menutup kacanya. Saya pun merasa kalau saya sudah ditolak, tetapi akhirnya saya matikan mesin mobil saya lalu keluar dari mobil dan mengetuk jendela kaca mobil dia. Dia pun membuka jendela dan berkata,"jangan ketok-ketok, tunggu aja di mobil, jangan masuk mobil gue ya", setelah itu dia kembali menutup jendela mobilnya serta mengunci mobilnya.

Jendela mobilnya dibuka, lalu dia menganggukkan kepalanya. Awalnya saya bingung apa maksudnya, ternyata saya baru menyadari kalau dia meng-iya-kan pertanyaan saya tadi. Untuk membenarkan prasangka saya itu, saya kembali bertanya,"maksudnya apa mengangguk gitu?", dia pun berkata,"maksudnya mau", saya pun bertanya lagi,"mau apa?", dia pun menjawab,"mau jadi pacar lo". Dia mengatakan itu dengan muka tersipu-sipu malu. Tanpa pikir panjang saya buka kunci pintunya lalu saya buka pintu mobilnya dan kemudian masuk mobilnya. Didalam mobil kami hanya duduk bersebelahan dan saling tidak percaya akan apa yang kami lakukan tadi. Layaknya seorang yang mengalami amnesia ditambah salah tingkah, kami hanya berdiam diri dan duduk bersebelahan di jok depan mobil sang perempuan. Kami terdiam sekitar 5-10 menit lalu aku membuka pembicaraan,"kita udah jadian ya?", dia menganggukkan kepalanya. Lalu kami sempat berbincang sebentar dan karena memang sudah cukup malam maka kami pun kembali ke peradaban kami masing-masing, saya pulang ke rumah dia kembali ke kostan.

Hari ini merupakan hari pertama kami di kampus dengan status pacaran. Saya menelpon dia untuk bertemu. Kami canggung. Di kampus belum ada yang tau kalau kami berpacaran. Lalu kami berdua pun pergi bersama seorang teman sang perempuan tersebut. Sampai akhirnya teman sang perempuan tersebut tahu kalau kami sudah berpacaran dan dia yang menyebarkan tentang hubungan kami ini. Hari berganti hari kemudian minggu berganti minggu kami menjalani hari dengan menyenangkan layaknya pasangan baru. Tetapi setelah beberapa minggu kita berpacaran sang perempuan sedih dan berkata bahwa saya nanti akan memutuskannya. Disaat itu saya bingung, kenapa dia bisa bersedih dan mengatakan hal seperti itu. Kemudian dia memberitahu hal yang membuat saya kaget dan awalnya saya yakin itu hanyalah hanya ada di cerita-cerita novel remaja, serial-serial pendek TV ataupun di sinetron. Tetapi itu bukan, itu nyata dia alami. Saya menyadari bahwa dunia ini hampir seperti surga, maksudnya hampir tidak ada yang tidak mungkin bisa dilakukan manusia. Sampai akhirnya saya mencari tahu dan saya sudahi kebimbangan saya, kemudian kami pun berpacaran seperti normalnya manusia lainnya.

Perjalanan kami pun hampir sampai membuat sebuah komitmen, tetapi untuk kita berdua saja. Saya dan dia memang ingin serius untuk kedepannya. Keseriusan kami pun mendapatkan cobaan, saya yang selama ini lebih suka diam begitu juga dia secara bersamaan mulai mengeluarkan vokal-vokal yang ada di dalam diri kami. Kami benar-benar hidup terbuka, mencoba untuk tidak ada tekanan antara satu sama lainnya. Bulan berganti bulan pun kami lalui sampai akhirnya kami suka melakukan perdebatan kecil, mulai dari alasan penggunaan menyalakan lampu motor di siang hari sampai hal-hal yang lebih tinggi tingkatnya. Disitu saya mulai mengetahui bahwa dia ingin selalu menang dalam perdebatan. Jika saya salah maka kata maaf saja kurang tetapi jika sebaliknya maka kata maaf sudah lebih dari cukup. Dari situ saya mulai mengendurkan vokal saya dan mulai membuat gimana caranya suasana tetap nyaman dan baik-baik saja.

Suatu hari teman saya ada yang berkata mengenai kepala rumah tangga, bahwa kepala keluarga itu ibarat seorang imam dalam sebuah shalat (bagi kaum muslimin) yang wajib diikuti gerakannya oleh setiap makmumnya. Jika imam itu salah maka makmum berhak untuk memberitahunya dengan isyarat tetapi jika imam itu tetap merasa benar maka makmum wajib mengikutinya, karena imam yang akan menanggung semua kesalahan yang diperbuatnya. Disitu saya mulai berpikir tentang sang perempuan itu, saya merasa kalau dia ingin menjadi pemimpin dalam sebuah hubungan ini. Dia selalu ingin yang mengambil alih tongkat perintah. Dia pun ingin selalu benar tetapi jika dia bersalah maka dengan memasang muka sedih semua persoalan beres dan seperti terlupakan oleh kita. Sungguh hebatnya perempuan itu membuat seorang Khayal hingga mencapai titik terendah derajatnya untuk seorang laki-laki.

Dipenghujung masa berpacaran kita, sang perempuan melakukan ibadah yang mengharuskan dia ke tanah suci (baca: Mekkah). Sekitar 10 hari dia berada disana. Setelah kembali khayal pun merasakan kesenangan yang luar biasa karena dapat bertemu dengan sang perempuan lagi. Tetapi ada yang aneh dari perilaku sang perempuan ini. Sampai akhirnya sang perempuan pun berkata,"kita ga usah pacaran lagi ya, aku udah ga mau pacaran lagi. Aku capek pacaran terus mau langsung nikah aja.". Khayal pun sontak menjadi kaget dan kemudian bertanya,"berarti kita ga pacaran lagi dong". Sang perempuan menjawab,"kita tetap berteman baik kok, kamu masih boleh main ke rumahku, kita masih bisa nonton bareng dan melakukan segalanya tetapi aku tidak mau mempunyai hubungan khusus lagi dengan kamu karena aku sudah tidak mau berpacaran lagi". Khayal pun bisa menerimanya walaupun hanya sesaat. Sesaat setelah itu Khayal hanya dapat mengenang masa lalunya itu.

Khayal memang seorang yang taat akan agama tetapi dia diajarkan sesuai dengan budaya negaranya. Jadi sebenernya dia menentang hal yang dilakukan oleh sang perempuan itu. Dia tidak menyukainya karena menurutnya itu tidak sesuai dengan pemikirannya dan budaya negaranya. Lagi-lagi Khayal menjalin hubungan dengan seorang wanita dan kali ini karena masalah prinsip agama.