Angan dan perempuan, memang merupakan 2 hal yang sulit bersatu. Angan bisa dibilang seorang yang cuek terhadap perempuan, sama seperti Khayal. Tetapi namanya manusia pasti ada perbedaan. Perbedaan yang mencolok antara Angan dan Khayal adalah tentang hubungan dengan seorang perempuan. Khayal yang terkenal gampang menaklukkan hati perempuan walaupun setelah itu disakiti oleh perempuan tersebut (sebut saja karma), sedangkan Angan terkenal susah menaklukkan hati satu orang pun hawa. Angan terbilang susah menaklukkan hati perempuan karena dia yang cuek dan memang tidak mengerti caranya.
Sejarah perempuan pertama yang saya tahu adalah ketika dia diberitahu oleh temannya, bahwa ada sesosok perempuan yang cantik, baik dan pintar. Naluri lelakinya semakin menjadi-jadi setelah dia melihat sosoknya lewat foto yang diberitahu oleh temannya tersebut. Berawal dari sebuah chatting terkenal pada sebuah smartphone di zamannya, Angan pun mulai ber-chit-chat ria dengan perempuan tersebut. Hingga akhirnya pada suatu waktu dia mengajaknya bertemu sekaligus menonton di bioskop. Perempuan tersebut pun menyetujuinya. Alangkah senangnya Angan mendengar berita tersebut.
Keesokan harinya angan pun meminta nomor handphone perempuan tersebut, dengan dalih untuk meminta petunjuk ke rumahnya. Sungguh cara klasik yang masih layak dipakai, saya bilang layak dipakai karena seorang Angan saja bisa melakukannya. Okey, kita lanjut lagi ceritanya. Setelah memasuki komplek perumahan sang perempuan, Angan pun menelpon perempuan tersebut. Dia sungguh terkagum-kagum dengan suara sang perempuan yang menurutnya adalah sebuah suara yang bisa menyejukkan hati. Sungguh lembut suaranya bagaikan bola-bola kapas. Lalu Angan pun meminta di pandu untuk ke rumah sang perempuan. Sekitar 10 menit Angan pun akhirnya menemukan rumah sang perempuan.
Selepas turun dari mobilnya, Angan pun mengetuk pintu pagar rumah tersebut. Kemudian terlihatlah sesosok perempuan berparas menawan, dan perempuan itu pun bertanya,"Angan ya?". Angan terpesona sekali dengan perempuan tersebut dan hanya bisa mengangguk saja, tidak bisa mengeluarkan kata-kata. "Ayo masuk dulu Ang" Ajak perempuan tersebut sambil membukakan pintu pagar rumahnya. Angan pun masuk dengan terus melihat sang perempuan. Belum pernah dia melihat perempuan semenawan itu. Sesampainya di ruang tamu, Angan pun bertemu dengan ibu sang perempuan. Sambil menunggu sang perempuan mempersiapkan dirinya, Angan pun memulai pembicaraan dengan ibu sang perempuan. Selang beberapa waktu, sang perempuan pun sudah siap. Angan berpamitan dengan ibu sang perempuan tersebut untuk mengajak anak gadisnya itu menonton di bioskop.
Sepanjang perjalanan dari rumah sang perempuan menuju bioskop Angan hanya berdiam diri. Sang perempuan yang terus memulai pembicaraan dan Angan hanya bisa menjawab sebisanya. Angan sesekali mencuri-curi pandangannya ke wajah sang perempuan tersebut. Perbincangan di dalam mobil tidak banyak, ya karena itu tadi, Angan terlalu terpesona dengan sang perempuan. Kemudian tiba sudah di bioskop, Angan pun mengajak sang perempuan untuk memilih tempat duduk di bioskop karena dia juga ingin mengetahui tempat favorit menonton sang perempuan. Ternyata dia perempuan baik-baik, bisa dilihat dari dia memilih tempat menonton yang nyaman. Tidak memilih di pojok, karena menurut Angan (saya juga sependapat dengan dia) orang yang memilih di pojok ada 2 hal, yaitu kehabisan tempat duduk di tengah atau ingin mesum. Karena memang nonton di pojok atau di barisan depan itu sebuah hal yang merugikan, kecuali tempat duduk di tengah sudah penuh terisi. Sepanjang menonton sang perempuan serius menonton, Angan pun menyukainya karena Angan juga tipikal orang yang kalau menonton di bioskop memang untuk menonton tidak untuk hal lain, kamu pasti taulah ya maksudnya.
Selesai menonton film, Angan mengajaknya untuk mencari makan dulu atau sekedar mencari makanan ringan untuk mengganjal perut tetapi sang perempuan tidak lapar. Dia menawarkan kalau Angan lapar dia temani makan tapi dia tidak mau makan. Akhirnya mereka pun tidak ada juntrunganya lagi dan kembali pulang selesai menonton. Dalam perjalanan pulang Angan ditanya,"Kamu kok pendiem ya, tapi kalau chatting kenapa berisik sih". Angan menjawab,"ga apa-apa kok, hehehe". Seperti sewaktu berangkat ke bioskop, perjalanan menuju rumah sang perempuan pun diwarnai dengan pembicaraan yang tidak banyak. Sesampainya di rumah sang perempuan Angan berterima kasih kepada sang perempuan karena sudah mau diajak menonton sekaligus Angan berpamitan dengan ibu sang perempuan.