Pada saat saya baru masuk sebuah perguruan tinggi, target pertama saya adalah melakukan hal-hal baru. Mulai dari rambut panjang, baju bebas, sandal jepit, bahkan celana pendek. Tapi semua harapan saya sirna, karena saya masuk ke sebuah perguruan tinggi yang menjunjung tinggi kedisiplinan.
Semester pertama saya jalani dengan senang, karena tugas yang sedikit. Saya bisa merasakan kuliah seperti yang saya idam-idamkan, yaitu bisa bebas dari tugas. Tidak seperti waktu sekolah dulu, yang tiap hari selalu ada tugas dan harus bangun pagi agar bisa sampai sekolah pagi-pagi dan menyalin tugas dari teman-teman saya.
Di awal semester dua, saya mulai berbaur dengan teman satu angkatan saya. Walaupun tidak semuanya, hanya beberapa orang saja. Dan saya dikenalkan dengan seorang wanita yang bisa di bilang menarik. Dia berkerudung, rajin shalat, pintar, tidak sombong dengan kekayaan yang orang tuanya punya, dan masih banyak hal yang membuat laki-laki menjadi tertarik dengan dia.
Begitu kenal, dengan ekstrimnya dia mengaku nge-fans dengan saya. Dan akan membuat perkumpulan yang akan dia ketuain, Khayal Fans Club. Sontak saya bingung. Dengan nada bercandanya dia bilang dia ingin jadi orang pertama yang nge-fans dengan saya. Hari-hari berjalan, saya dengan dia menjadi dekat. Hingga pada suatu saat dia menyatakan cintanya pada saya. Saya jadi bingung apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus menerima cintanya atau menolak cintanya.
Ada hal yang membuat saya bingung, yaitu saya sebenarnya lebih mencintai teman dia dari pada dirinya. Dia saya anggap sebagai sahabat yang akan selalu ada di saat saya suka dan duka. Tapi dia terus berjuang untuk mendapatkan saya, tidak hanya sekali dia menyatakan cintanya kepada saya.
Dan tiba pada suatu hari, saya menyatakan rasa cinta saya kepadanya. Dan dengan sedikit bingung bercampur senang dia menerima cinta saya.
Hari pertama saya menjadi pacar perempuan itu, saya ingin kenal lebih dalam tentang dia. Maka dari itu saya bertanya dengan teman-teman saya yang notabene teman-teman perempuan itu juga tentang karakter perempuan tersebut. Saya pun terheran-heran, karena pandangan teman-teman saya itu negatif tentang dia. Dia seperti perempuan bermuka dua, di saat bersama saya dia menjadi malaikat dan saat bersama teman-temannya yang tidak sepemikiran dengannya dia berubah menjadi iblis.
Hari kedua, perempuan itu saya dan teman saya pancing dengan sebuah pertanyaan dan jawabannya berbeda antara jawabannya ke saya dan ke teman saya itu. Saya jadi tidak percaya lagi dengan dia. Dia bisa memainkan dua peran yang berbeda, bisa di bilang bermuka dua.
Hari ketiga saya bulatkan tekat saya untuk menyudahi hubungan yang terbilang singkat ini. Mulanya dia tidak terima, dan mengeluarkan dalih2 yang dimaksudkan untuk membuat saya mencabut omongannya. Dia sempat menawarkan beberapa opsi seperti "lebih baik kita putus dan tidak saling mengenal lagi" dan "kita instrokpeksi diri dulu terus kita lanjutkan hubungan ini". Karena saya merasa dipermainkan olehnya maka saya pilih opsi pertama yaitu "lebih baik kita putus dan tidak saling mengenal lagi".
Semenjak itu saya terus berpikir, beginilah perempuan. Lebih baik di khayal daripada dibawa ke dunia nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar